Mengulik Odoo: ERP Fleksibel yang Bisa Dikustomisasi Sesuka Hati (Plus Tips Belajar & Solusi Log)

Mungkin kalian pernah dengar orang nyebut “Odoo” dalam obrolan seputar software atau bisnis. Iya, Odoo lagi naik daun banget, apalagi di Asia — termasuk Indonesia. Tapi sebenernya, Odoo itu apa sih?
Yuk kenalan lebih dalem.
 

Odoo itu software bisnis yang serba bisa.

Buat yang awam, Odoo itu sistem ERP (Enterprise Resource Planning) yang multifungsi: bisa buat akuntansi, inventory, sales, HRD, bahkan website. Kalau di dunia teknis, kita sering sebut dia sebagai framework — bahasa dasarnya Python, didukung sama XML buat struktur UI, SCSS buat layout, dan JavaScript (biasanya pake OWL).

Yang bikin Odoo menarik adalah sifatnya yang open source dan sangat fleksibel. Lo nggak perlu ubah code intinya; cukup modif dikit biar sesuai kebutuhan lapangan. Cocok buat usaha yang butuh sistem “suka-suka gue”.
Sejarah Odoo: dari TinyERP sampai sekarang
Odoo Brand Asset | Odoo

Sumber: Odoo.com

 

Awalnya Odoo lahir di Belgia tahun 2005 dengan nama TinyERP, dikembangkan oleh Fabien Pinckaers. Sekitar 2009, namanya berubah jadi OpenERP — ini adalah era dimana fitur-fitur kunci mulai matang. Baru di 2014, nama Odoo dipakai resmi dan bertahan hingga sekarang (2026).

 

Gimana cara mulai belajar Odoo?

Kayak framework lain, belajar Odoo wajib ngerti Python dulu. Tapi sampe mana?
Dari pengalaman gua, paham OOP (Object-Oriented Programming) di Python sudah cukup buat mulai. Tapi begitu masuk lebih dalam, ternyata butuh lebih:
  • Routing endpoint API
  • Import package eksternal
  • Belajar JS framework OWL
  • Dan tentu saja ORM (Object Relational Mapping) — ini kunci biar bisa manajemen data dengan baik.
  • Saran gua: coba pernahin bikin proyek kecil pake Flask dulu, soale struktur Odoo mirip-mirip sama Flask.

Apa yang susah di Odoo?

Nah, ini pengalaman pribadi nih.
Gua udah pake Odoo di Windows dan Linux, dan masalah paling sering itu penanganan error. Pas ada error fatal atau data corrupt, Odoo cuma nampilin: 

Internal Server Error (500)
Hampir nggak ada petunjuk di browser — jadi kita harus buka file log manual, entah lewat odoo.log di Windows atau journalctl di Linux.

Tapi tenang, saudara-saudara. Gua udah bikin “obat”-nya: script shell (Linux) dan Ps1 (Windows) yang bisa baca log Odoo secara real-time. Jadi lo tinggal jalanin script itu, terus coding layaknya manusia modern — nggak perlu bolak-balik buka log manual.
 
Konfigurasi di linux memakai file .sh (Bash)

#!/bin/bash
# Simpan sebagai: odoo_log.sh di /usr/local/bin/
# Agar bisa dibaca di seluruh terminal

ODOO_SERVICE="odoo18"

bash -c "journalctl -u $ODOO_SERVICE -f; exec bash"

Konfigurasi di WINDOWS memakai file .ps1 (skrip Windows PowerShell ) 

# Simpan sebagai: tail_odoo_log.ps1

$logPath = "C:\odoo\odoo.log"

Get-Content $logPath -Wait -Tail 50

Catatan akhir

Peningkatan Layanan VOIP
Sumber: YouTube Odoo

 



Odoo ini framework Python, jadi wajar kalo berat apalagi versi terbaru (Odoo 19) makin kelihatan arahnya ke otomatisasi cerdas dan AI-assisted feature.
Saran spek minimal:

  • RAM 8 GB (pas-pasan)
  • RAM 16 GB (nyaman)
  • SSD juga bakal ngebutin proses development.

Intinya: Odoo itu powerfull, bisa disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, dan tetap bisa dipelajari meski butuh effort ekstra di awal. Jangan takut sama error 500 — yang penting tau cara bacanya.

Gimana, tertarik nyoba Odoo?

*

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama